Label

Senin, 09 Maret 2015

Horcrux

Lord Voldemort, tokoh antogonis sentral dalam saga Harry Potter karya J.K. Rowling, tanpa disadari mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga tentang makna suatu keabadian. Di dalam karya fenomenalnya tersebut, Rowling dengan apik menceriterakan bahwa untuk memperoleh keabadian, Voldemort membagi jiwanya kedalam tujuh benda spesial yang disebut Horcrux. Dengan kata lain, Voldemort tak bisa mati, sebelum ada orang yang mengahancurkan ketujuh benda tersebut, tempat jiwa-jiwanya bersemanyam. However, kita tidak akan membahas cerita ini lebih panjang, jika ingin tahu banyak tentang epik Harry Potter, anda bisa membacanya tujuh seri novelnya di perpustakaan atau membelinya ditoko-toko buku terdekat.

Keabadian dan eksistensi, senantiasa menuntut intregitas. Kita harus bisa memberikan sebuah karya besar yang didalamnya lah tempat sebagian jiwa kita berada. Salah satunya adalah tulisan atau karya tulis. Karya tulis seperti buku adalah salah satu “Horcrux” yang bisa diciptakan untuk memperoleh keabadian. Didalamnya kita menuangkan ide, pola pikir, gaya berbahasa, curhat dan sebagainya. Sehingga jiwa kita akan tetap hidup selamanya walaupun raga telah lama meninggalkan dunia.

Betapa banyak tokoh/orang besar yang telah lama meninggalkan kita, namun jiwanya seperti masih benar-benar berjalan mengiringi kita. Sebut saja Newton, yang menciptakan horcrux yang bernama Principia yang kemudian menjadi  “Kitab Sakti” tolok ukur matematika-fisika modern hingga kini. Atau seperti Gibran yang mati dalam kesendiriannya, namun “Sayap-sayap patah” yang diciptakannya bekerja lebih efesien mempengaruhi ribuan muda-mudi yang tengah dimabuk cinta. Bahkan buya HAMKA akan tetap hidup, bekerja dan berdakwah dalam setiap karyanya seperti tafsir Al-Azhar dan novel-novel legendarisnya.

Allah telah memberi kita pengetahuan tentang hal ini jauh-jauh hari, jauh sebelum Newton, Galilleo, Gibran, Ibnu Sina dan HAMKA lahir kedunia. Tuhan telah menunjukan bahwa budaya ilmiah adalah kunci agar manusia bisa mempertahankan eksistensinya. Maka setelah Allah menyeru manusia untuk membaca, disaat bersamaan pula Ia menerangkan hakikat menulis (Alqur’an, Al-Alaq : 1-5).

Begitulah cara tulisan bekerja. Mereka menyimpan sebagian dari fragmen jiwa kita, merekam semangat dan menduplikasikan ide-ide kita. Dan ketika ada orang yang membacanya, maka mereka tak menemukan apapun kecuali jiwa yang hidup kembali dan berbicara. Tulisan bahkan bisa bekerja lebih tajam dari pedang dan berteriak lebih nyaring melampaui auman singa.

Maka benarlah seperti kata pepatah, scripta manent verba volant, yang tertulis itu abadi yang dibicarakan akan hilang. Memang karya tulis hanyalah satu dari banyak horcrux yang bisa manusia ciptakan, mungkin kalau kita merunut kembali pada kisah Harry Potter, Voldemort menciptakan salah satu horcrux yang juga berupa karya tulis, yaitu buku harian Riddle. Yang dengannya dia mempengaruhi orang agar berbuat jahat.

Sudahkah anda menulis?..., ya walaupun hanya sesederhana buku diary saja. :)

Wallahu a’lam. (Lingke, 21/04/13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar