Lord Voldemort, tokoh antogonis
sentral dalam saga Harry Potter karya J.K. Rowling, tanpa disadari mengajarkan
kita sebuah pelajaran berharga tentang makna suatu keabadian. Di dalam karya
fenomenalnya tersebut, Rowling dengan apik menceriterakan bahwa untuk
memperoleh keabadian, Voldemort membagi jiwanya kedalam tujuh benda spesial
yang disebut Horcrux. Dengan kata lain, Voldemort tak bisa mati, sebelum ada
orang yang mengahancurkan ketujuh benda tersebut, tempat jiwa-jiwanya bersemanyam.
However, kita tidak akan membahas
cerita ini lebih panjang, jika ingin tahu banyak tentang epik Harry Potter,
anda bisa membacanya tujuh seri novelnya di perpustakaan atau membelinya
ditoko-toko buku terdekat.
Keabadian dan eksistensi,
senantiasa menuntut intregitas. Kita harus bisa memberikan sebuah karya besar
yang didalamnya lah tempat sebagian jiwa kita berada. Salah satunya adalah tulisan
atau karya tulis. Karya tulis seperti buku adalah salah satu “Horcrux” yang
bisa diciptakan untuk memperoleh keabadian. Didalamnya kita menuangkan ide,
pola pikir, gaya berbahasa, curhat
dan sebagainya. Sehingga jiwa kita akan tetap hidup selamanya walaupun raga telah
lama meninggalkan dunia.
Betapa banyak tokoh/orang besar
yang telah lama meninggalkan kita, namun jiwanya seperti masih benar-benar
berjalan mengiringi kita. Sebut saja Newton, yang menciptakan horcrux yang
bernama Principia yang kemudian
menjadi “Kitab Sakti” tolok ukur
matematika-fisika modern hingga kini. Atau seperti Gibran yang mati dalam
kesendiriannya, namun “Sayap-sayap patah” yang
diciptakannya bekerja lebih efesien mempengaruhi ribuan muda-mudi yang tengah
dimabuk cinta. Bahkan buya HAMKA akan tetap hidup, bekerja dan berdakwah dalam
setiap karyanya seperti tafsir Al-Azhar dan novel-novel legendarisnya.
Allah telah memberi kita pengetahuan
tentang hal ini jauh-jauh hari, jauh sebelum Newton, Galilleo, Gibran, Ibnu
Sina dan HAMKA lahir kedunia. Tuhan telah menunjukan bahwa budaya ilmiah adalah
kunci agar manusia bisa mempertahankan eksistensinya. Maka setelah Allah
menyeru manusia untuk membaca, disaat bersamaan pula Ia menerangkan hakikat
menulis (Alqur’an, Al-Alaq : 1-5).
Begitulah cara tulisan bekerja.
Mereka menyimpan sebagian dari fragmen jiwa kita, merekam semangat dan
menduplikasikan ide-ide kita. Dan ketika ada orang yang membacanya, maka mereka
tak menemukan apapun kecuali jiwa yang hidup kembali dan berbicara. Tulisan
bahkan bisa bekerja lebih tajam dari pedang dan berteriak lebih nyaring melampaui
auman singa.
Maka benarlah seperti kata pepatah,
scripta manent verba volant, yang
tertulis itu abadi yang dibicarakan akan hilang. Memang karya tulis hanyalah
satu dari banyak horcrux yang bisa
manusia ciptakan, mungkin kalau kita merunut kembali pada kisah Harry Potter,
Voldemort menciptakan salah satu horcrux yang juga berupa karya tulis, yaitu
buku harian Riddle. Yang dengannya dia mempengaruhi orang agar berbuat jahat.
Sudahkah anda menulis?..., ya
walaupun hanya sesederhana buku diary saja. :)
Wallahu a’lam. (Lingke,
21/04/13)