Label

Kamis, 16 Desember 2010

Para penggenggam cahaya, a political article for Islamic revival

1924, mungkin merupakan sebuah angka yang begitu berarti dalam relung jiwa ummat Islam, khususnya para aktivis gerakan Islam. 1924, adalah salah satu dari tahun-tahun terkelam sepanjang sejarah ummat Islam. Bangunan raksasa terakhir ummat kali itu seketika runtuh, kekuatan politik terbesar ummat pun terkubur jauh dibawah serpihan puing-puing reruntuhan Daulah Utsmaniyah tersebut. Kemal attaturk dengan gagahnya mengantarkan dunia Islam pada sebuah episode baru sejarah tanpa Khilafah. Ini merupakan kali pertama ummat Islam menelan pil yang teramat pahit dalam sejarah, dan rasanya masih terasa hingga kini.

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya (QS. As-Shaf:8)

Ayat Allah diatas memberikan kita sebuah aksioma yang cukup jelas, tentang kebangkitan Islam, adalah sebuah keniscayaan. Ini terbukti hanya setelah empat tahun runtuhnya khilafah, tahun 1928 Ikhwanul Muslimin muncul membawa manifestasi ayat  Allah diatas, mereka tampil dan memelopori gerakan kebangkitan Islam. Dan bukan cuma itu, cahaya-cahaya itu mulai menampakkan berkasnya diseluruh dunia, lahirnya Hizbut tahrir di Yordania, Jamaah Islamiyah di Lahore-India, bahkan cahaya itu muncul di Nusantara yang mempunyai pengaruh dan kontribusi yang cukup besar, seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammdiyah. Cahaya Allah tidak pernah dan tidak akan sirna hingga akhir dunia.

Namun permasalahannya ialah, integritas dan kedewasaan Gerakan Islam. Seiring perjalanannya, banyak hal perbedaan pola dan cara berjuang yang menjadi bahan diskusi yang panjang antar gerakan, dan kemudian hal itu menjadikan benturan-benturan kecil yang sebenarnya itu tidak perlu terjadi. Sejauh mana sebuah gerakan islam mengindari benturan, sejauh itu pula kedewasaan sebuah Gerakan Islam. Padahal telah menjadi fitrah perjuangan, bahwa semua aktivis dakwah yang hidup dizaman ini, merupakan penerus tongkat estafet generasi sebelumnya yang (mungkin) jauh lebih banyak berbuat.

Tidak ada yang lebih menginspirasi saya (penulis), untuk saat ini, selain kisah HOS Cokroaminoto. Lahir dari golongan bangsawan yang tidak punya latar belakang keagamaan yang mumpuni, setelah konflik yang terjadi dikeluarganya, maka ia hidup sebagai seorang priyayi (rakyat biasa dalam adat jawa). Ditengah kesibukkannya bekerja dipabrik gula, ia sempatkan diri untuk mengakaji Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa belanda. Ia tidak pernah terlibat dalam gerakan Islam apapun sebelumnya, dan mungkin tidak mengenal siapa itu Hasan Al-banna, Sayyid Quthb dan Abul ‘ala al maududi, apalagi untuk mengkaji hadist-hadist serta tafsir berbahasa arab yang tidak ia kuasai. Namun, dengan jumlah literatur yang terbatas tadi (hanya Al-Qur’an terjemahan bahasa belanda), atas hidayah Allah ia mampu mendirikan sebuah gerakan Islam bernama Sarekat Islam (SI) dan kelak menjadi MASYUMI, yang merupakan basis kekuatan politik Umat Islam terbesar yang pernah ada hingga saat ini. Hanya MASYUMI, sampai saat ini adalah satu-satunya Parpol Islam yang mampu memenangkan lebih dari 20% kursi parlemen.

Gerakan tarbiyah, yang muncul diawal dekade 80an, melanjutkan tongkat estafet yang telah lama diperjuangkan. Seiring dengan waktu kita harus semakin dewasa dan sadar bahwa bukan hanya kita satu-satu peserta Lomba lari Estafet tersebut yang kini menggenggam cahaya Allah tadi, banyak rekan-rekan seperjuangan yang ikut berlari, namun berbeda cara dan kecepatannya. Yang bermuara pada sebuah garis finish yang sama, yaitu garis kemenangan Islam.

Semua ini warisan, warisan-warisan meraka, sang penggenggam cahaya.Hampir tidak pernah kita dengar bahwa Hizbut Tahrir dan FPI mengambil peran aktif dalam pergerakan Nasional tahun 1908-1945, dibandingkan MASYUMI. Tarbiyah bahkan tidak lebih berjasa bagi kemajuan pendidikan kaum Muslimin dimasa penjajahan, dibandingkan Muhammadiyah dan Perti. Ma’had Kajian Jamaah salafi serta Markaz-markaz Jamaah tabligh pun tidak berperan penuh dalam penyebaran sunnah-sunnah Rasullullah pada massa penjajahan, dibandingkan Pondok-pondok pesantren Nahdhiyin.

Kita adalah bagian dari mereka, dan mereka adalah bagian dari kita. Sudah seharusnya kita saling merangkul, bukan memukul, sudah saatnya kita saling mencinta, bukan menghina, mendukung bukan mengukung. Sudah  saatnya lokomotif kebangkitan Islam itu kita jalankan, dengan langkah-langkah sinergis dan efektif. Insyallah, Harapan itu akan selalu dan tetap ada....!

Wa asstaghfirullahi walakum
Wallahua’alamu bish shawab. Semoga bisa menjadi nasehat bagi sesama.

Iqbal Amin, Lingke Oktober 2010


(tulisan yang tercipta, ditengah kesimpang-siuran proposal penelitian, dengan sebuah pelarian buku-buku haraki yang selalu setia menemani dikala kesendirian menyapa diri , yang begitu nikmat sedap dinikmati bersama sepotong Donat dan secangkir teh di penghujung hari....hehe ^_^. Justice will prevail...!)