Label

Senin, 03 Januari 2011

Nasionalisme Religius. (Sebuah wacana diskusi kebangkitan Islam)


Terusik dengan pernyataan Syaikh Muhammad Shidiq Al Jawi (semoga rahmat dan hidayah selau tercurah atas beliau)dalam artikelnya “ISLAM & NASIONALISME  (Buanglah Nasionalisme ketempat sampah)”, yang mengatakaan bahwa segala macam bentuk Nasionalisme itu haram, sedikit saya kutip pernyataan beliau:
“Islam telah menentang dan mengharamkan ide nasionalisme itu. Tak masuk akal, alias gila, bila ide yang telah membawa penderitaan dan kesengsaraan umat manusia itu dihalalkan dan diridoi oleh agama Islam yang lurus”.

Secara sekilas kutipan diatas sarat akan nilai Islami yang cukup kental, namun secara substansi mungkin dapat menyebabkan kebingungan dan mungkin  luka dihati sebagian besar kaum muslimin tahan air. Wallahu a’lam, apa yang melatarbelakangi  syaikh berkata seperi itu, tapi semangat jihad dan perjuangan beliau sangat tercermin dalam tulisannya yang begitu berapi-api  (saya salut atas semangat beliau).

Maaf, tapi statement diatas rasanya agak terlalu berlebihan, kerangka berfikir manusia lugu saya dengan serta merta kurang nyaman dengan pedapat beliau. Ya, walaupun pada saat itu (dan mungkin hingga kini), saya tidak mempunyai dalil atau literatur ilmiah tertentu untuk memberikan nilai tawar lebih atas ketidaksepakatan saya tersebut.

Saya sangat sepakat dengan pendapat ulama mu’tabar yang telah masyhur, tentang Liberalisme, Kapitalisme, Komunisme dan teman-teman, tidak adalah landasan logis apalagi literatur Islam ilmiah untuk menghalalkannnya. Namun Nasionalisme mempunyai telaah yang lebih komprehensif, karena mau tidak mau ia merupakan fragmen sejarah yang insyallah mengantarkan kita menuju gerbang kemerdekaan. 

Menurut KBBI 2008, Nasionalisme berarti paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Dari definisi yang sederhana ini saya tidak melihat adanya unsur pertentangan terhadap aspek religius (Islam). Namun nasionalisme bisa menjadi haram jika ia berubah menjadi ideologi , dan menjadi anutan yang lebih jauh lagi yaitu chauvinisme (sifat mengunggulkan bangsa sendiri dibandingkan bangsa lain) dalam artian dia lebih mencintai bangsanya dari pada Allah dan Rasulnya.

Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah : 24)

Frase lebih kamu cintai, dalam Ayat suci Allah diatas menunjukkan bahwa mencintai sesuatu yang halal adalah hal yang sangat manusiawi dan dibolehkan, Cuma jangan sampai itu melebihi kecintaan kita kepada Allah dan Rasulnya. Dan jika serta merta itu di fatwa haram, maka ia hanya kan menyisakan sejuata kebingungan atau bahkan luka dihati kaum muslimin tanah air. Nauzubillah

Ayat diaatas juga merupakan, sebuah petunjuk suci yang menuntun kita untuk menghindari sifat fanatisme yang diharamkan (Ashabiyah), namun cinta tanah air bukanlah termasuk ashabiyah.

Dari Watsilah Ibnul Asqa’; saya bertanya kepada Rasulullah SAW. apakah seseorang yang mencintai kaumnya termasuk ashabiyyah? Rasulullah menjawab: Tidak; tapi yang termasuk ashabiyyah ialah bila ia menolong kaumnya dalam kezaliman.”

Penamaan suatu kaum dalam islam seperti, Anshar, Muhajirin, Ahlussufah dan sebagainya ada dan tidak dilarang dizaman, namun Islamlah tetap menyatukan hati semuanya.

Setelah menelaah tetang tulisan syaikh diatas, seorang mahasiswa angkatan muda di fakultas saya dengan polosnya bergumam, “Jadi Jendral Sudirman, Muhammad Hatta, HAMKA dosa dong bang..., masuk neraka lah bang, mayat jadi ga boleh dishalati klo gitu bang, kok ane malah jadi bingung bang...yang mana yang betol islam ni...?”. Perkataan lugu itu menunjukkan betapa bingungnya ia, yang malah mungkin berakibat lebih fatal, ia tidak mau lagi mempelajari Islam karena menurut ia “banyak versinya”. Dengan senyum saya hanya bisa menjawab, “bro..., banyak-banyak lah membaca buku Islam, bukan wawasan Islam..hehe”.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujarat : 13)

Allah telah menciptakan kita berbangsa, dan sudah menjadi sunnatullah bahwa sebagai warga negara yang baik, kita mempunyai rasa cinta terhadap tanah air kita sendiri, namun kita tidak boleh mengartikan bahwa bangsa kita itu lebih diatas segala bangsa (seperti Nazisme dan Zionisme) pada intinya kita harus saling mengenal dan bertemu untuk bersatu. Tidak ada yang lebih dari suatu kaum dimata Allah kecuali taqwanya.

Mungkin narasi diatas terlalu panjang untuk menerjemahkan betapa manusiawinya nasionalisme tersebut. Laga final Indonesia VS Malaysia untuk memperebutkan piala AFF pada akhir desember tahun lalu, menjadi kalimat penyederhanaan yang cukup efektif. Kesebelasan mana yang anda dukung dan anda harapkan menang ? jawablah dengan kerangka berfikir anda yang paling sederhana....

Billahi fii sabililill haq, Wa astaghfirullahu li walakum
Wallahua’alamu bish shawab.

Semoga menjadi wacana baru dalam memperkaya wawasan keislaman kita.

Iqbal Amin, Lingke Januari 2011